Hari ini ana akan membawakan satu kisah benar daripada Nahdatul Ulama' Indonesia mengenai seorang lelaki yang sering membid'ahkan mereka yang melakukan amalan yang sehaluan dengan fahamannya. Cerita ini telah diedit memandangkan terdapat banyak bahasa Indonesia yang tidak di fahami tetapi ianya tidaklah mengubah cerita tersebut.Kisah ini mungkin agak melucukan tetapi harap dijadikan pengajaran buat kita semua.
Kang Hanif, seorang anggota Ansor, telah lama di angkat masyarakat di desa untuk
memangku masjid. Semua acara keagamaan dipimpin oleh dia . Suatu hari ada seorang
berjanggot panjang dari desa berhampiran menudingnya sebagai
pelaku bid’ah, churafat, tahyul, bahkan syirik.
memangku masjid. Semua acara keagamaan dipimpin oleh dia . Suatu hari ada seorang
berjanggot panjang dari desa berhampiran menudingnya sebagai
pelaku bid’ah, churafat, tahyul, bahkan syirik.
“Mas, sampean jangan terus-terusan menyesatkan umat. Tahlilan, sholawatan, yasinan, manaqiban, bermaaf-maafan sebelum memasuki Ramadhan, itu bid’ah. Apalagi mendoakan mayit,
tawasul atau ngirim pahala untuk orang sudah mati. Doa itu tidak sampai, bahkan
merusak iman. Musyrik hukumnya,”
tawasul atau ngirim pahala untuk orang sudah mati. Doa itu tidak sampai, bahkan
merusak iman. Musyrik hukumnya,”
kata orang tersebut dengan gaya paling Islam dan paling benar.Kang Hanif hanya diam saja. Dia
sudah beberapa kali menghadapi orang begitu yang biasanya hanya bermodal dengan ilmu agama yg jauh dari memadai. Persis seperti anak kecil baru
belajar karate, yang baru tahu satu dua jurus saja lagak lakunya belagu.
sudah beberapa kali menghadapi orang begitu yang biasanya hanya bermodal dengan ilmu agama yg jauh dari memadai. Persis seperti anak kecil baru
belajar karate, yang baru tahu satu dua jurus saja lagak lakunya belagu.

Walau kang Hanif telah 9 tahun mengaji di pesantren Tambak Beras dan
paham betul dasar-dasar amaliyah itu, dia tetap tidak membantah dan membiarkan
orang itu terus menudingnya.
“Percuma saja membantah orang itu. Hatinya tertutup oleh
janggotnya. Mata hatinya tak seterbuka mata kakinya,”
janggotnya. Mata hatinya tak seterbuka mata kakinya,”
bicara batin kang Hanif.
Beberapa waktu kemudian ayah orang yang berjanggot itu meninggal dunia. Kang Hanif datang bertakziyah bersama para jamaahnya. Dia lantas berdoa keras di depan mayit si bapak dan jama’ahnya mengaminkan .
“Ya Allah, laknatlah mayit ini. Jangan ampuni dosanya.
Siksalah dia sepedih-pedihnya. Kumpulkan dia bersama Fir’aun, Qorun dan orang yg
Engkau laknati. Masukkan dia di neraka sedalam-dalamnya,
selama-lamanya”
Siksalah dia sepedih-pedihnya. Kumpulkan dia bersama Fir’aun, Qorun dan orang yg
Engkau laknati. Masukkan dia di neraka sedalam-dalamnya,
selama-lamanya”

.Si janggot menghampiri Kang Hanif untuk menghentikan doanya.
“Jangan protes. Katamu doa kepada mayit tidak akan sampai. Santai saja. Tidak ada yg perlu engkau khawatirkan bukan? Kalau aku , aku yakin doaku akan sampai,” ujar kang Hanif tenang.
Muka si janggot berang lantas tak sepatah katapun keluar dari mulutnya yang
biasa menghakimi orang lain.
biasa menghakimi orang lain.
Oleh itu jangan suka sangat menghukum orang lain .Baru tahu sedikit ilmu agama dah berlagak alim. Berhati-hatilah bila bertembung dengan puak yang suka bid'ahkan orang nie.
No comments:
Post a Comment