Followers

Sunday, 18 December 2011

Symail Muhammadiyyah : Bentu Tubuh Rasulullah S.A.W





"Rasulullah saw. bukanlah orang yang berperawakan terlalu tinggi, namun tidak
pula pendek. Kulitnya tidak putih bule juga tidak sawo matang. Rambutnya ikal,
tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus kaku. Belia u diangkat Allah (menjkadi
rasul) dalam usia empat puluh tahun. Beliau tingal di Mekkah (sebagai Rasul)
sepuluh tahun dan di madinah sepuluh tahun. Beliau pulang ke Rahmatullah
dalam usia enam puluh tahun. Pada k epala dan janggutnya tidak terdapat
sampai dua puluh lembar rambut yang telah berwarna putih."
(diriwayatkan oleh Abu Raja' Qutaibah bin Sa'id, dari Malik bin Anas, dari Rabi'ah bin Abi
`Abdurrahman yang bersumber dari *Anas bin Malik r.a)
• Anas bin Malik r.a adalah Abu Nadhr Anas bin Malik al Anshari al Bukhari al Khazraji. Ia
tinggal bersama Rasulullah saw dan membantu Beliau selama sepuluh tahun.Dan ia adalah
sahabat yang paling akhir meninggal du nia di Bashrah, yaitu pada tahun 71 H.
• Perawi menghilangkan bilangan satuannya dari puluhan (digenapkan) . Karena kebanyakan
riwayat menyatakan bahwa Rasulullah saw tinggal di Mekkah sebagai Rasul 13 tahun, dan
wafat pada usia 63 tahun.

"Aku tak pernah orang yang berambut panjang terurus rapi, dengan mengenakan
pakaian merah, yang lebih tampan dari Rasulullah saw. Rambutnya mencapai
kedua bahunya.Kedua bahuny a bidang. beliau buk anlah seorang yang
berperawakan pendek dan tidak pula terlampau tinggi."
(diriwayatkan oleh Mahmud bin Ghailan, dari Waki',dari Sufyan, Dari Abi Ishaq, yang
bersumber dari al Bara bin `Azib r.a)

"Rasulullah saw. tidak berperawakan terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek.
Beliau berperawakan sedang diantara kaumny a. Rambut tidak keriting bergulung
dan tidak pula lurus kaku, melainkan ikal bergelombang. Badannya tidak gemuk,
dagunya tidak lancip dan wajahnya agak bundar. Kulitnya putih kemerah-merahan. Matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik. Bahunya bidang. beliau
memiliki bulu lebat yang memanjang dari dada sampai ke pusat. Tapak tangan
dan kakinya terasa tebal. Bila Beliau berjalan, berjalan dengan tegap seakan-akan Beliau turun ke tempat yang renda h. Bila Beliau berpaling maka seluruh
badannya ikut berpaling. Diantara kedua ba hunya terdapat Khatamun Nubuwah,
yaitu tanda kenabian. Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara
manusia. Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantar semua
orang. Perangainya amat lembut dan beliau paling ramah dalam pergaulan.
Barang siapa melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya. Dan barang
siapa pernah berkumpul dengannya kemudi an kenal dengannya t entulah ia akan
mencintainya. Orang yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata: "Belum
pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa Beliau
saw."

(Diriwayatkan oleh Ahmad bin `Ubadah ad Dlabi al Bashri, juga diriwayatkan oleh `Ali bin
Hujr dan Abu Ja'far bin Muhammad bin al Hu sein, dari `Isa bin Yunus, dari `Umar bin
`Abdullah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari salah seorang putera `Ali bin Abi Thalib k.w.
yang bersumber dari `Ali bin Abi Thalib k.w.)







"Telah diperlihatkan kepadaku para Nabi. Adapun Nabi Musa a.s. bagaikan
seorang laki laki dari suku Syanu'ah*. Kuli hat pula Nabi `Isa bin Maryan a.s.
ternyata orang yang pernah kulihat mi rip kepadanya adalah `Urwah bin Mas'ud*,
Kulihat pula Nabi Ibranim a.s. ternyata orang yang mirip kepadanya adalah
kawan kalian ini (yaitu Nabi saw sendiri). Kulihat jibril tern yata orang yang pernah
kulihat mirip kepadanya adalah Dihyah*."
(Diriwayatkan oleh Qutaibah bin Sa'ad dari La its bin Sa'id, dari Abi Zubair yang bersumber
dari Jabir bin `Abdullah r.a.)

• Suku Syanu'ah terdapat di Yaman perawakan mereka sedang.
• Urwah bin Mas'ud as Tsaqafi adalah sahabat Rasulullah saw ia memeluk islam pada tahun 9 H.
• Dihyah adalah seorang sahabat Rasulullah saw yang mengikuti jihad fi sabilillah setelah
perang Badar. Ia pun merupakan salah seorang pengikut Bai'atur Ridlwan yang bersejarah.


"Rasulullah mempunyai gigi seri yang renggang. Bila Beliau berbicara terlihat
seperti ada cahaya yang memancar keluar antara kedua gigi serinya itu."


(Diriwayatkan oleh `Abdullah bin `Abdurrahman, dari Ibrahim bin Mundzir al Hizami, dari
`Abdul `Aziz bin Tsabit az Zuhri, dari Ismail bi n Ibrahim, dari Musa bin `Uqbah, dari Kuraib
yang bersumber dari Ibnu `Abbas r.a.)

Thursday, 1 December 2011

Fiqh : Halalkah makan daging tupai ?



Ramai dalam kalangan masyarakat kita hari sering tertanya-tanya apakah hukum makan binatang comel yang bernama sang tupai . adakah ianya halal atau haram dimakan??h Hari ini ana akan membawa sebahagian pendpat ulama' yang menerangkan hukum memakan tupai. Nak tau kan ??

Sebelum itu ingin diterangkan Tupai dalam bahasa Arabnya disebut as-sanjaab. Pendapat yang pertama yang ana bawakan hari ini adalah HALAL , sebab tidak ada dalil yang mengharamkannya. Dalam kitab at-Tibyan li Maa Yuhallal wa Yuharram min al-Hayawan hal. 109, Imam Syihabuddin asy-Syafi’i (w.808 H) mengatakan: “Tupai, ia hukumnya halal…” (as-sanjaab, wa huwa halaal…).
Dalilnya adalah prinsip dasar hukum syariah Islam, bahwa :“al-ashlu fi al-asy-yaa` al-ibaahah maa lam yarid dalil al-tahriim” (Hukum asal benda adalah mubah selama tidak ada dalil yang mengharamkan).Imam asy-Syaukani menjelaskan kaedah tersebut pada bagian akhir bab tentang makanan, buruan, dan sembelihan dengan mengatakan,”Berbagai ayat dan hadis yang disebut pada awal bab ini menunjukkan bahwa hukum asal benda adalah halal (al-ashlu al-hill). Pengharaman tidak dapat ditetapkan kecuali jika ada [dalil] yang memindahkan dari hukum asalnya yang sudah diketahui…” Dalam masalah ini, iaitu hukum tupai, tidak ada dalil yang mengharamkannya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Terdapat juga ulama' yang menggunkan dalil hadis nabi berikut:


الحلال ما احل الله في كتابه والحرام ما حرم الله في كتابه وما سكت عنه وهو مما عفو عنه (رواه الترمذى)

“Yang halal adalah apa yang Allah halalkan dalam kitabNya, yang haram adalah yang Allah haramkan dalam kitabNya, dan apa saja yang di diamkanNya, maka itu termasuk yang dimaafkan.

Karena itulah hukum memakan Tupai adalah kembali ke hukum asal segala sesuatu yakni halal, selama tidak membahayakan kesehatan. Sebab, memang tak ada dalil baik dari Al Quran dan As Sunnah tentang pengharamannya, atau makruhnya. Tertulis dalam kitab Hasyiah Al Jumal, kitab fiqih bermadzhab Syafi’i:

وَيَحِلُّ أَيْضًا السِّنْجَابُ وَهُوَ حَيَوَانٌ عَلَى حَدِّ الْيَرْبُوعِ يُتَّخَذُ مِنْ جِلْدِهِ الْفِرَاءُ

“Dan dihalalkan pula Tupai, dia adalah hewan sejenis kangguru, yang bisa diambil kulitnya untuk pakaian berbulu .


Antara ulama' yang menghalalkan makan daging tupai termasuklah sebahagian ulama' mazhab syafie dan dirajihkan lagi oleh Al-imam An-Nawawi rahimahullahu Taala.

Ibnu Qudamah rahimahullahu menyatakan ada kemungkinan halal dengan alasan bahwa binatang yang diragukan antara halal dan haramnya maka didominankan sisi kehalalannya, karena hukum asalnya halal dan keumuman nas-nas menuntut perkara demikian.


Pedapat kedua ada yang memakruhkannya. Pendapat yang memakruhkan makan tupai ini adalah pendapat Malikiyah.


Terdapat juga ulama' yang mengharamkannya tetapi tidak ramai.

Harus diingat juga Binatang comel ini hendaklah di sembelih agar ianya halal di makan. Kalau tidak di sembelih maka ianya jatuh HARAM. Tupai yang hendak disembelih itu juga mestilah tupai yang tidak mempunyai taring dan kuku mencengkam.

Maka jelaslah disini daging tupai adalah halal di makan......