الحلال ما احل الله في كتابه والحرام ما حرم الله في كتابه وما سكت عنه وهو مما عفو عنه (رواه الترمذى)
“Yang halal adalah apa yang Allah halalkan dalam kitabNya, yang haram adalah yang Allah haramkan dalam kitabNya, dan apa saja yang di diamkanNya, maka itu termasuk yang dimaafkan.
Karena itulah hukum memakan Tupai adalah kembali ke hukum asal segala sesuatu yakni halal, selama tidak membahayakan kesehatan. Sebab, memang tak ada dalil baik dari Al Quran dan As Sunnah tentang pengharamannya, atau makruhnya. Tertulis dalam kitab Hasyiah Al Jumal, kitab fiqih bermadzhab Syafi’i:
وَيَحِلُّ أَيْضًا السِّنْجَابُ وَهُوَ حَيَوَانٌ عَلَى حَدِّ الْيَرْبُوعِ يُتَّخَذُ مِنْ جِلْدِهِ الْفِرَاءُ
“Dan dihalalkan pula Tupai, dia adalah hewan sejenis kangguru, yang bisa diambil kulitnya untuk pakaian berbulu .
Antara ulama' yang menghalalkan makan daging tupai termasuklah sebahagian ulama' mazhab syafie dan dirajihkan lagi oleh Al-imam An-Nawawi rahimahullahu Taala.
Ibnu Qudamah rahimahullahu menyatakan ada kemungkinan halal dengan alasan bahwa binatang yang diragukan antara halal dan haramnya maka didominankan sisi kehalalannya, karena hukum asalnya halal dan keumuman nas-nas menuntut perkara demikian.
Pedapat kedua ada yang memakruhkannya. Pendapat yang memakruhkan makan tupai ini adalah pendapat Malikiyah.
Terdapat juga ulama' yang mengharamkannya tetapi tidak ramai.
Harus diingat juga Binatang comel ini hendaklah di sembelih agar ianya halal di makan. Kalau tidak di sembelih maka ianya jatuh HARAM. Tupai yang hendak disembelih itu juga mestilah tupai yang tidak mempunyai taring dan kuku mencengkam.
Maka jelaslah disini daging tupai adalah halal di makan......
No comments:
Post a Comment